BHINNEKA TUNGGAL IKA DAN FILOSOFI HIDUP URANG SUNDA

17 Agustus 1945 adalah titik awal kehidupan baru bagi seluruh warga negara Indonesia. Hal yang diidam-idamkan, dicita-citakan telah diraih. Perjuangan yang tak henti, mempertaruhkan jiwa dan raga berakhir bahagia. Dengan lantang seluruh lapisan masyarakat menyatakan "merdekaaaa".

17-08 menjadi angka istimewa dan mengandung nilai sejarah yang luar biasa. Angka tersebut selalu diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia disetiap tahunnya, dan Sangsaka Merah Putih dikibarkan dengan gagahnya.

Semua lapisan masyarakat bersyukur. Tidak ada kasta, tidak ada tahta, yang ada adalah kegembiraan semata. Semua bahagia, semua larut dalam suka cita.

Ada yang menumpahkan rasa kegembiraannya dengan memasang pernak-pernik Merah Putih di halaman rumahnya, ada juga yang menggelar kegiatan perlombaan sederhana namun syarat makna, bahkan dewasa ini banyak juga kegiatan turnament olahraga diadakan untuk menyambut peringatan hari kemerdekaan.

Banyak sekali hal yang dilakukan. Bahkan setiap daerah memiliki cara dan ekspresi yang berbeda. Dari Sabang sampai Merauke, semua punya tradisi masing-masing, semua punya  style masing-masing,  dan ini menunjukan bahwa kita memiliki keberagaman.

Keberagaman itu pada dasarnya fitrah. Keberagaman itu adalah anugerah. Dari keberagaman kita belajar banyak hal tentang kehidupan. Keberagaman itu harus dijadikan modal untuk menjadi satu,  seperti yang terbentang pada Burung Garuda, "Bhinneka Tunggal Ika", berbeda-beda tetapi tetap satu. Ya, kita adalah satu, satu Nusa satu Bangsa, Indonesia.

Kini, kita berada di angka 72. Angka yang menunjukan kematangan dan kedewasaan. Angka ini wajib kita syukuri karena tidak mudah mempertahankan kedaulatan dengan tipikal masyarakatnya yang multiculture.

Kita mungkin telah mengetahui, banyak sekali yang ingin memecah belah Negara berbagai upaya. Mulai dari isu-isu agama, suku, ras, budaya, bahkan ada pula yang ingin mendirikan negara sendiri yang terpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai contoh, dulu pernah ada kelompok mengatasnamakan GAM yang ingin mendirikan negara tersendiri. Kemarin, terkuak beberapa Ormas yang pad dasarnya bertentangan dengan ideologi Pancasila. Belum lagi rasisme yang banyak tumbuh di kalangan masyarakat dan hal itu dapat menimbulkan perpecahan.

Kita sebagai orang Sunda kiranya tidak perlu menghiraukan masalah-masalah tersebut. Kesadaran terhadap perbedaan adalah fitrahnya manusia harus dijadikan harga mati. Bhinneka Tunggal Ika sebagai pondasi, dan menjadikan filosofi hidup 'silih asih, silih asah, silih asuh, sebagai jembatannya.

Silih Asih berarti saling menyayangi, Silih Asah artinya saling menambah, memberi, menguatkan dan menajamkan. Kemudian Silih Asuh bermakna saling menjaga dan membimbing.

Dari kata silih (saling) berarti ada unsur yang dilibatkan (subjek - objek), ada dua pihak yang saling balas. Penerapannya sederhana saja, sebagai contoh, jika ada orang yang berbeda suku datang atau menetap di Jawa Barat, kita harus sadar bahwa mereka masih satu saudara (silih asih). Apabila di lingkungan kita terdapat orang yang berkeyakinan (agama) yang berbeda, kita harus hormati dan memberikan kebebasan mereka untuk beribadah (silih asuh). Ketika ada orang yang berbeda warna kulit yang sedang membutuhkan pertolongan, membutuhkan dukungan,  maka kita tidak boleh pandang bulu (silih asah).

Hal yang memang sederhana, namun dalam penerapannya butuh kesadaran yang amat tinggi, karena pada dasarnya manusia mempunyai ego. Ego merasa bahwa rasnya paling baik, merasa agamanya paling benar, merasa sukunya paling bagus. Oleh karena itu, hal yang paling mendasar dalam menjaga kebhinnekaan adalah kerendahan hati. Menyadari bahwa di dunia ini tidak ada yang sama, menyadari bahwa dalam setiap agama adalah mengajarkan kebaikan, menyadari bahwa tanpa adanya Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Madura, NTT, NTB, Maluku, Papua, dan ribuan Pulau lainnya, kita tidak akan menjadi INDONESIA.

Sukajaya,
19 Agustus 2017

Koko Komarudin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ieu Conto Salah Sahiji Kasusastraan Sunda...

DIALEKTOLOGI