Selasa, 08 Oktober 2013

Puisi

RAHEUT 
Lain teu bisa asup
Tapi sok sieun teu bisa kaluar










Jatinangor, 8 Oktober 2013  21:21
@kossan_reggy

Rabu, 31 Oktober 2012

DIALEKTOLOGI


METODE
PENGUMPULAN DATA BAHASA

1.      Pengertian Metode,  Data, dan Bahasa

Secara garis besar Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sedangkan Data adalah, catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti “sesuatu yang diberikan”. Sedang Bahasa adalah, kapasitas khusus yang ada pada manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem komunikasi yang kompleks, dan sebuah bahasa adalah contoh dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks.
Dalam keilmuan (ilmiah), fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak credible, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Penggunaan istilah ‘data’ sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kuantitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, di dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau fokus penelitian.
Di dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; Wawancara, Observasi, Angket, Survei, Dokumentasi dan Diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis informasi yang diperoleh.

2.      Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan penggunaannya melalui angket, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan sebagainya.

Beberapa Aspek dalam Proses Pengumpulan Data :
• Data apa yang dikumpulkan (What).
• Dengan apa data itu dikumpulkan (With).
• Darimana data akan dikumpulkan (Where).
• Kapan data tersebut dikumpulkan (When).
• Bagaimana cara mengumpulkan (How).
Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi:
a. Data Primer: Data yang diusahakan/didapat oleh peneliti.
b. Data Sekunder: Data yang didapat dari orang/instansi lain.

1.          Wawancara

Wawancara merupakan percakapan antara dua orang atau lebih dan berlangsung antara narasumber dan pewawancara. Tujuan dari wawancara adalah untuk mendapatkan informasi di mana sang pewawancara melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk dijawab oleh orang yang diwawancarai.

Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian. Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya.

2.          Observasi

Observasi sama halnya dengan Pengamatan yaitu, aktivitas yang dilakukan makhluk cerdas, terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk melanjutkan suatu penelitian.

Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.

3.          Angket

Angket atau yang lebih dikenal dengan nama Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas. Penggunaan kuesioner sebagai metode pengumpulan data terdapat beberapa keuntungan, diantaranya adalah pertanyaan yang akan diajukan pada responden dapat distandarkan, responden dapat menjawab kuesioner pada waktu luangnya, pertanyaan yang diajukan dapat dipikirkan terlebih dahulu sehingga jawabannya dapat dipercaya dibandingkan dengan jawaban secara lisan, serta pertanyaan yang diajukan akan lebih tepat dan seragam.

4.          Survei

Survei adalah adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif, Survei yang dilakukan dalam melakukan penelitian biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, Survei lazim dilakukan dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif.

5.          Dokumentasi

Dokumentasi adalah hal yang bersumber dari Dokumen. Dokumen adalah sebuah tulisan yang memuat informasi. Dan dokumen dapat dihasilkan apabila kita telah melakukan proses penelitian.

6.          Diskusi terfokus

Diskusi terfokus (Focus Group Discussion), yaitu upaya  menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti.

Jadi bisa disimpulkan bahwa Metode Pengumpulan Data Bahasa adalah, salah satu cara bagi kita yang ingin mengenal atau mungkin mempelajari seberapa besar pengaruh dan fungsi bahasa pada suatu daerah tertentu. Dan cara untuk melakukannya lebih kurang ada 6 cara, yaitu: Wawancara, Observasi, Angket, Survei, Dokumentasi dan Diskusi terfokus. Dan cara untuk mengetahuinya tentu saja dengan cara mencari narasumber.






Koko Komarudin
Sastra Sunda 
UNIVERSITAS PADJADJARAN


 




























Selasa, 23 Oktober 2012

Ieu Conto Salah Sahiji Kasusastraan Sunda...


PUPUJIAN

1 .     Pengertian Pupujian

Pupujian yaitu puisi yang isinya mengenai puja-puji, doa, nasihat, dan ajaran yang dijiwai oleh ajaran Islam. Jenis karya sastra ini pada awalnya hidup di lingkungan pesantren dan tempat-tempat pengajian yang memiliki hubungan erat dengan ajaran Islam. Munculnya pondok pesantren pun sejalan dengan masuknya agama Islam ke Jawa Barat. Pada periode awal masa penyebaran agama Islam, para ulama atau kiyai mempergunakan berbagai cara untuk menarik orang memasuki dan mempelajari agama Islam. Hal demikian itu sebagaimana dilakukan Sunan Kali Jaga ketika memasukkan ajaran Islam ke dalam seni wayang. Di Jawa Barat untuk cara seperti itu, selain merupakan lembaga tempat lahirnya kegiatan-kegiatan kesenian, seperti seni pencak, seni suara, dan seni sastra, termasuk puisi pupujian.

Pupujian dalam bahasa Sunda suka disebut juga nadoman, yaitu untaian kata-kata yang terikat oleh padalisan (larik, baris) dan pada (bait). Kadang-kadang istilah pupujian dibedakan dengan istilah nadoman. Pupujian diartikan sebagai puisi yang isinya puja-puji kepada Allah, sedang nadoman diartikan sebagai puisi yang isinya mengenai ajaran keagamaan. Menurut Rusyana (1971: 9) isi pupujian itu terbagi menjadi enam golongan , yaitu :

1.      Memuji keagungan Tuhan,
2.      Sholawat kepada Rasulullah,
3.     Doa dan taubat kepada Allah,  
4.     Meminta safaat kepada Rasulullah,  
5.     Menasehati umat agar melakukan ibadat dan amal saleh serta menjauhi kemaksiatan,
6.      Memberi pelajaran tentang agama, seperti keimanan, rukun Islam, fikih, akhlak, tarikh, tafsir Alquran, dan sorof.

Selain itu ada pula isi pupujian yang tidak termasuk ke dalam enam kategori tersebut karena isinya berupa mantra dan etika dalam pergaulan. Sebagai contoh, pupujian cara melawat orang sakit, cara menulis surat, sikap yang baik terhadap pemerintah, dan cara bertamu. Puisi pupujian hidup di lingkungan pesantren dan tempat mengaji yang ada hubungannya dengan ajaran Islam. Lahirnya bersamaan dengan masuk serta menyebarnya agama Islam di Jawa Barat, kira-kira pada tahun 1580, setelah Kerajaan Pajajaran runtuh, terus tunduk kepada kerajaan Islam. Adapun puisi pupujian yang tumbuh dan berkembang di pusat-pusat penyebaran agama Islam tersebut merupakan salah satu media pendidikan pengajaran agama, dan ajaran kesusilaan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dilihat dari segi fungsinya, puisi pupujian itu memiliki dua fungsi, yaitu fungsi ekspresi pribadi dan fungsi sosial Rusyana, 1971: 7). Fungsi sosial puisi pupujian sangat menonjol dibandingkan dengan fungsi ekspresi pribadi. Puisi pupujian dipakai untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, dan tingkah laku manusia, selain digunakan untuk menyampaikan berbagai ajaran agama. Sebagai media pendidikan, puisi pupujian disampaikan dengan cara dinyanyikan yang dihafalkan di luar kepala. Dengan cara seperti itu, anak didik dan masyarakat akan tergugah dan mempunyai keinginan untuk mengikuti nasihat serta ajaran agama yang dikumandangkan melalui puisi pupujian itu. Rekan-rekan Guru yang mencintai sastra daerah! Dahulu pada masa-masa sebelum Perang Dunia II, puisi pupujian sering dikumandangkan di lingkungan pesantren dan madrasah, mesjid, langgar, ataupun tempat-tempat pengajian lainnya.

Puisi pupujian ini dialunkan pada saat-saat menjelang salat subuh, magrib, dan isya. Pada masa sekarang ini frekuensi pemakaian puisi pupujian di tempat-tempat tersebut itu sudah agak berkurang, sekalipun masih ada, tetapi fungsinya sudah berubah. Kalau sebelumnya diutamakan menjadi media pendidikan, sekarang menjadi salah satu ajang kegiatan kesenian yang bersifat seremonial saja. Misalnya hanya dipakai pada acara kesenian dalam kegaiatan memperingati Maulud Nabi, Rajaban, musabaqoh tilawatil Quran, atau intihan. Akan tetapi di madrasah-madrasah, walaupun dalam jumlah yang relatif kecil, puisi pupujian ini masih tetap berfungsi sebagai media pendidikan untuk mempermudah penyampaian ajaran agama Islam kepada anak-anak. Ada indikasi bahwa berkurangnya pemakaian puisi pupujian itu disebabkan oleh tingkat pengetahuan dan pendidikan agama masyarakat sekarang sudah jauh lebih tinggi daripada ajaran-ajaran agama yang tertuang dalam puisi pupuian. Selain itu, buku-buku tentang ajaran agama Islam sekarang telah banyak beredar dan mudah diperoleh. Mungkin juga karena pengaruh kebudayaan modern, sehingga masyarakat sekarang menganggap bahwa lagu dan ajaran Islam dalam puisi pupujian sudah kurang relevan dengan tuntutan perkembangan zaman, terutama ajaran adab dan sopan santun.

2. Bentuk dan Isi Puisi Pupujian

 Puisi pupujian itu berbentuk syair yang di dalam khazanah sastra Sunda disebut juga siiran. Sebagaimana Anda ketahui di dalam sastra Indonesia, syair adalah bentuk puisi Melayu, pengaruh sastra Arab yang setiap baitnya terdiri atas empat baris. Tiap baris terdiri atas sembilan sampai empat belas suku kata, dan bersajak a – a – a – a. Syair berisi cerita, hikayat, dan nasihat yang terakit dalam sebuah karangan panjang, teridiri dari puluhun sampai ratusan bait. Di dalam sastra Sunda, puisi pupujian ini tidak persis sama jumlah suku katanya seperti dalam syair sastra Melayu, tetapi lebih sering bersuku kata delapan.

 Persajakannya pun tidak selalu harus a- a-a-a, kadang-kadang bersajak a – a- b- b; a-a-b-a; a-a-b-c, a-b-a-b; a-b-a-a; a-a-a-b; a-b-b-b; a-b-c-a; a-b-c-c; a-b-b-c; a-b-a-c; dan a-b-c-b. Mengapa bentuk persajakannya demikian? Menurut Rusyana (1971: 15), hal itu terjadi karena pengaruh bentuk persajakan puisi Sunda yang telah ada sebelum bentuk syair masuk. Misalnya bentuk puisi Sunda papantunan, mantra-mantra, sisindiran, dan kawih (lagu). Tiap baris dari semua bentuk puisi itu a-a-a-a atau a-b-a-b pada sisindiran, sedangkan sajak akhir mantra dan kawih umumnya bebas. Selanjutnya, Rusyana (1971: 19) menggolongkan bentuk puisi pupujian ini ke dalam tujuh bentuk puisi, yaitu syair, kantetan opat (empat seuntai), paparikan (pantun), kantetan dua (dua seuntai), kantetan genep (enam seuntai), kantetan salapan (sembilan seuntai), dan kantetan robah (untaian tak tentu).

BERIKUT INI ADALAH BEBERAPA CONTOH BENTUK PUISI PUPUJIAN

A.    Bentuk dua seuntai
Qolielun Qolielun ‘umruna fie daarid dunya
1. Eling-eling ka jalma nu sok sarolat
    geuwat-geuwat masing gancang ka musholla
 2. Supaya meunang darajatna berjamaah
    berjamaah anu tujuh likur tea
 3. Arapalkeun ku sadaya umat Islam
     arapalkeun ku sadaya umat Islam

Terjemahan
Qolielun
1.     Wahai orang yang suka salat
 cepat-cepatlah ke musala
2.     Agar mendapat pahala berjamaah
berjamaah yang berjumlah dua puluh tujuh
3.     Hapalkanlah oleh semua umat Islam
hapalkanlah oleh semua umat Islam
B. Bentuk empat seuntai
Allah Anu Mahaakbar
1. Allah anu Maha akbar
   Nu rohmatna Mahajembar
   Nu Mahawelas ngaganjar
  Ka jalma nu to’at sabar
2. Bumi langit jeung eusina
   Allah anu ngadamelna
  Miara ngurus mahlukna
  Ngatur hirup jeung rijkina
3. Sim abdi muji ka Allah
   Resep jeung isin ku Allah
  Neda pitulung ka Allah
  Ngaharep rohmat ti Allah

 Terjemahan
 Allah Yang Mahabesar
1. Tuhan yang Mahabesar
    Besar dengan segala rohmatnya
    Maha Pengasih dalam memberi ganjaran
    Kepada orang yang taat sabar
2. Bumi langit beserta isinya
    Tuhan jugalah yang membuatnya
    Memelihara dan mengurus semua mahluknya
    Mengatur kehidupan dan penghidupannya
 3. Hamba memuji kepada-Mu ya Tuhan
    Cinta dan segan pada-Mu ya Tuhan
    Minta pertolongan kepada-Mu jua ya Tuhan
    Rokhmat dari-Mu aku harapkan

C.  Bentuk lima seuntai
 Kaum Muslimin
1.  Hey dulur kaum muslimin
     regepkeun ieu siiran
    manawi tamba lumayan
    malahmandar-malahmandar
    janten jalan kabagjaan
2. Lamun aya waktu lowong
   Enggal eusi ulah lowong  
   Pilari elmu nu luhung
  Ulah embung-ulag embung
   Meungpeung umur acan nungtung

Terjemahan
 Kaum Muslimin
1.     Wahai saudara kaum muslimin
 perhatikanlah siiran ini
 barangkali ada faedahnya
 agar supaya agar supaya
 menjadi jalan kebahagiaan
2.     Bila ada waktu senggang
isilah jangan sampai kosong
carilah ilmu utama
jangan segan jangan segan
            selagi umur belum berakhir

 D. Bentuk delapan seuntai
 Solawat Udzma
1. Lumpat sakabeh jalma
    muruna ka Kangjeng Nabi
   nyungkeun tulung jeung sapaat
   Kangjeng Nabi teras nangis
  sujud ka Nu Mahaagung
  nyuhunkeun sapaat Gusti
  Gusti Allah te kawan

Jumat, 28 September 2012